TAFSIR SURAT GHOFIR

Surat ghofir atau surat al-mu’min atau surat ath thuur, didalamnya sedikit menerangkan tentang ‘Arasy.
‘Arasy merupakan makhluk ciptaan yang sangat besar yang diciptakan oleh alloh sebelum alloh menciptakan Alam semesta ini.’Arsy dijaga oleh malaikat yang ditugaskan oleh Alloh untuk menjaganya yaitu yang dinamakan malaikat Hamalatul ‘Arsy yang berjumlah empat malaikat, dan akan menjaganya sampai hari Qiyamat yang nantinya Allah akan menambahkannya empat malaikat sehingga menjadi delapan malaikat yang menjaga ‘Arsy.
Dalam melaksanakan tugas itu malaikat Hamalatul ‘Arsy itu sambil mengucapkan pujian kepada Allah supaya dalam menjaga ‘Arsy malaikat itu tidak merasa berat yaitu lafadz “subhaanallah wabihamdihi subhaanallahhil’adzim”. Nah, yang pertama kali mengucapkan pujian tersebut tiada lain adalah malaikat Hamalatul ‘Arsy.
Selain mengucapkan pujian kepada Allah, malaikat Hamalatul ‘Arsy juga memintakan pertolongan kepada Allah untuk orang-orang yang beriman karena “Inna Rahmatallaahi Waasi’atun”. Sesungguhnya Rahmat dan ilmu Alah sangatlah luas.
Malaikat juga makhluk allah sama dengan kita tidak bisa melihat allah. Manusia dan jin pun sama tidak bisa melihat Allah, tetapi makhluk allah melihat Allah hanya dengan keyakinan!!! Jadi orang yang tidak yakin adanya Allah berarti mereka tidak bisa melihat Allah SWT.
Ketika Seseorang masuk surga, Allah berkata kepada mereka apa yang kau ingikan atau apa yang ingin kau katakan? kata yang paling pertama diucapkannya adalah “Dimana bapakku? Dimana Ibuku?”. Allahpun menjawa mereka ada di Neraka. Sehingga seseorang itu tidak ridho dan tidak akan merasa tenang apabila dia berada di surge sendirian tanpa ayah dan ibunya, sehingga Allah memerintahkan kepada malaikat malik untuk mengangkat ayah dan ibunya dari neraka kemudian dimandikan di Telaga Kautsar dan dimasukkan keduanya kedalam surga selama keduanya termasuk “Man Sholaha” yaitu orang-orang yang pantas, siapakah orang-orang yang pantas? Yaitu orang-orang yang tidak membawa syirik!!!

(Pengajian mahrib, Tafsir jalalaini hal. 382)
Ditulis Oleh : Ahmad Hanifudin, Santri Ponpes Ihya Ulumiddin