"afdlolu zikru LAA ILAAHA ILLALLAAH.."(alHadits) artinya "Zikir yang paling afdol adalah LAA ILAAHA ILLALLAAH.."

 
Oleh: Ustâdz Hammâd Abû Mu’âwiyah
 Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangatmendasar pada ‘aqidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorangmengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinyasebelum mengetahui apa maknanya serta dia tidak akan mendapatkan berbagaikeutamaan kalimat yang mulia ini sampai dia mengetahui apa maknanya,mengamalkannya dan meninggal di atasnya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
َنُ َ ْ َ  ْُ هَو َ ْ ِ  َِ َ  ْَ   ِإ ََ َ  ا ِِ وُد ْِ  َنُ ْَ  َِ ا ُِ ْ َ  َ َو

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberisyafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui(nya).”
(
QS. Az-Zukhruf: 86
)Dan Rasulullah
Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam
telah menegaskan:
َ َ ْ ا ََ َد ُا ِإ ََ ِإ َ ُ َأ ُَ ْ َ  َُ هَو َتَ  ْَ 

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengatahui bahwa sesungguhnya tiadasembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk Surga.”
(
HSR.Bukhary
dari shahabat Abu Hurairah
radhiallahu ‘anhu
)Oleh karena itu, berikut penjelasan secara singkat mengenai makna kalimat tauhid yangmulia ini:
 Laa Ilaaha Illallah
adalah kalimat yang terdiri dari 4 kata, yaitu: kata ( laa ), kata (Ilaha),kata ( illa ) dan kata (
 Allah
). Adapun secara bahasa bisa kita uraikan secara ringkassebagai berikut:
•Laa adalah nafiyah lil jins
(Meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yangdatang setelahnya). Misalnya perkataan orang Arab
“Laa rojula fid dari”
(Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki didalam rumah. Sehingga
laa
dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua
 

 
 jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepadaAllah
‘Azza wa Jalla
.


 Ilah
adalah
mashdar 
(kata dasar) yang bermakna
maf’ul
(obyek) sehinggabermakna
ma`l uh
yang artinya adalah
ma’bud
(yang diibadahi). Karena
aliha
maknanya adalah
‘abada
sehingga makna
ma’luh
adalah
ma’bud
. Hal inisebagaimana dalam bacaan Ibnu ‘Abbas
radhiallahu ‘anhuma
terhadap ayat 127pada surah
Al-A’raf
:
ِ  ُَ ْَ َو َ ْُ  ُرََ َأ َنْَ ْِ  ِمْَ  ْِ  ُَ ْ ا َلَ َوََ َ َ ِإَو َكَرََ َو ِضْرََ ْ ا ْِ  اْوُِ ْ ُ 

“Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun): “Apakahkamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini(Mesir) dan
 meninggalkan kamu serta ilahatahmu
(peribadatan kepadamu)?”
.
 Il ahat aka
(
ilahatahmu
) yaitu peribadatan kepadamu, karena Fir’aun itu disembahdan tidak menyembah. Hal ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbas memahami bahwakata
 Ilahah
artinya adalah Ibadah


 Illa
(kecuali). Pengecualian di sini adalah mengeluarkan kata yang terletak setelah
illa
dari hukum kata yang telah dinafikan oleh
laa
. Misalnya dalam contoh di atas
laa rajula fid dari illa Muhammad
, yaitu Muhammad (sebagai kata setelah
illa
)dikeluarkan (dikecualikan) dari hukum sebelum
illa
yaitu peniadaan semua jenislaki-laki di dalam rumah, sehingga maknanya adalah tidak ada satupun jenis laki-laki di dalam rumah kecuali Muhammad. Jika diterapkan dalam kalimat tauhid inimakna maknanya adalah bahwa hanya Allah yang diperkecualikan dari seluruh jenis
ilah
yang telah dinafikan oleh kata
laa
sebelumnya.


Lafadz “Allah” asal katanya adalah
 Al-Ilah dibuang hamzahnya untuk mempermudah membacanya, lalu lam yang pertama di idhgam kan (digabungkan)pada lam  yang kedua maka menjadilah satu lam yang di  tasydid   dan lam yangkedua diucapkan tebal sebagaimana pendapat Imam Al-Kisa`i dan Imam Al-Farra` dan juga pendapat Imam As-Sibawaih.